Wednesday, April 24, 2013

PESONA CANDI MENDUT

candi mendut terdapat di desa mendut, kecamatan mungkid, kabupaten magelang, jawa barat, lebih kurang 38 km ke arah barat laut dari yogyakarta. lokasinya cuma lebih kurang 3 km dari candi barabudhur, yang mana candi buddha ini diperkirakan memiliki kaitan jamant dengan candi pawon serta candi mendut. ketiga candi tersebut terdapat pada satu garis lurus arah utara-selatan.

candi ini pertama kali ditemukan kembali pada th. 1836. seluruh bangunan candi mendut diketemukan, jika sisi atapnya. pada th. 1897-1904, pemerintah hindia belanda lakukan uapaya pemugaran yang pertama dengan hasil yang cukup memuaskan meskipun tetap jauh dari prima. kaki serta tubuh candi sudah sukses direkonstruksi. pada th. 1908, van erp memimpin rekonstruksi serta pemugaran kembali candi mendut, yakni dengan menyempurnakan bentuk atap, menempatkan kembali stupa-stupa serta melakukan perbaikan beberapa puncak atap. pemugaran pernah terhenti dikarenakan ketidaktersediaan dana, tetapi dilanjutkan kembali pada th. 1925.

candi mendut mempunyai denah basic berupa segi empat. tinggi bangunan semuanya 26, 40 m. tubuh candi buddha ini berdiri diatas batur setinggi lebih kurang 2 m. di permukaan batur ada selasar yang cukup lebar serta dilengkapi dengan langkan. dinding kaki candi dihiasi dengan 31 buah panel yang berisi beragam relief cerita, pahatan bunga serta sulur-suluran yang indah.

di sebagian area di selama dinding luar langkan ada jaladwara atau saluran untuk buang air dari selasar. jaladwara ada di umumnya candi di jateng serta yogyakarta, layaknya di candi barabudhur, candi banyuniba, candi prambanan serta di situs ratu baka. jaladwara di tiap-tiap candi mempunyai bentuk yang berlainan.

belum diperoleh kepastian mengenai kapan candi mendut dibangun, tetapi j. g. de casparis menduga bahwa candi mendut dibangun oleh raja pertama dari wangsa syailendra pada th. 824 m. dugaan tersebut didasarkan pada isi prasasti karangtengah ( 824 m ), yang mengatakan bahwa raja indra sudah bikin bangunan suci bernama wenuwana. casparis mengartikan wenuwana ( rimba bambu ) sebagai candi mendut. diperkirakan umur candi mendut lebih tua dari pada umur candi barabudhur.



candi mendut adalah candi yang terdapat sangat timur dari garis lurus tiga serangkai candi ( borobudur, pawon, mendut ). candi ini didirikan oleh dinasti syailendra serta berlatar berlakang agama budha, di mana perihal ini diperlihatkan karenanya ada bentuk stupa sejumlah 48 buah di bagian atasnya. tidak diketahui dengan tentu kapan candi ini didirikan. tetapi seorang arkeologi belanda mengatakan bahwa di dalam prasasti yang ditemukan didesa karangtengah bertarikh 824m dikemukakan bahwa raja indra sudah membangun bangunan suci bernama venunava yang ini berarti rimba bambu. bila perihal ini benar maka dapat dipastikan candi mendut didirikan pada abad ke 8 masehi.

di bagian didalam candi ini ada ruangan yang berisikan altar area tiga arca budha berdiri. ketiga arca tersebut dimulai dari yang sangat kiri yaitu bodhisattva vajravani, buddha sakyamuni serta bodhisattva avalokitesvara. ketiga arca budha tersebut tetap didalam situasi bagus, sebagian bunga-bunga serta dupa terlihat tergeletak di bagian bawahnya. sesuatu pagar besi dibangun di bagian depan arca tersebut untuk hindari hubungan pengunjung yang berlebihan/tidak berkepentingan atas ketiga patung budha ini.

pada dinding timur terpahat relief bodhisatwa. didalam relief ini sang buddha yang digambarkan sebagai sosok bertangan empat tengah berdiri diatas area yang memiliki bentuk serupa lingga. pakaian yang dikenakan yaitu pakaian kebesaran kerajaan. di sekitar kepalanya memancar cahaya kedewaan. tangan kiri belakang memegang kitab, tangan kanan sebelah belakang memegang tasbih, ke-2 tangan depan menggambarkan sikap varamudra, yakni buddha bersila dengan sikap tangan berikan anugrah. di sebelah kirinya setangkai bunga teratai yang keluar dari didalam bejana.

pada dinding segi utara terpahat relief yang menggambarkan dewi tara tengah duduk diatas padmasana, diapit dua orang lelaki. didalam relief ini tara digambarakan sebagai dewi bertangan delapa. keempat tangan kiri tiap-tiap memegang tiram, wajra, cakra, serta tasbih, namun keempat tangan kanan tiap-tiap memegang sesuatu cawan, kapak, tongkat, serta kitab.

pada dinding barat ( depan ), di sebelah utara pintu masuk, ada relief sarwaniwaranawiskhambi. sarwaniwaranawiskhambi digambarkan tengah berdiri dibawah sesuatu payung. baju yang dipakainya yaitu baju kebesaran kerajaan.


lihat foto lainnya :